Transformasi Nilai Bhinneka Tunggal Ika Dari Zaman Majapahit Hingga Kini
![]() |
| Gambar ilustrasi hasil Gemini: Transformasi Nilai Bhinneka Tunggal Ika Dari Zaman Majapahit Hingga Kini |
NEWJURNALIS.COM | Era Majapahit bukan cuma soal penaklukan wilayah, tapi juga tentang kebudayaan yang sangat kaya dan terstruktur. Sebagai kekaisaran yang memadukan harmoni antara agama Hindu dan Buddha, tradisi mereka mencakup aspek spiritual, kenegaraan, hingga kehidupan sehari-hari yang unik.
Berikut adalah beberapa tradisi utama yang dilakukan pada era Majapahit:
1. Upacara Sraddha (Pemujaan Arwah)
Ini adalah salah satu tradisi paling sakral dan megah di Majapahit. Sraddha adalah upacara peringatan kematian (biasanya dilakukan 12 tahun setelah seseorang wafat) untuk menyempurnakan arwah agar menyatu dengan dewa.
Contoh Terkenal: Upacara Sraddha untuk Rajapatni Gayatri yang diselenggarakan oleh Raja Hayam Wuruk dengan sangat mewah, melibatkan seluruh pejabat kerajaan dan rakyat.
Majapahit punya semacam "pesta rakyat" tahunan yang dilakukan setiap bulan Phalguna (Februari-Maret) dan Caitra (Maret-April).
Acara ini dimeriahkan dengan turnamen ketangkasan, adu kekuatan, hingga pertunjukan seni di lapangan besar (Wiwit).
3. Tradisi Petirtaan (Mandi Suci)
Bagi masyarakat Majapahit, air adalah elemen penyucian. Mereka membangun banyak Petirtaan (pemandian suci) seperti Candi Tikus atau Jolotundo
Tradisi mandi ini bukan sekadar membersihkan badan, tapi juga ritual meditasi dan penghormatan terhadap sumber daya alam.
Majapahit adalah pelopor konsep Bhinneka Tunggal Ika. Tradisi keagamaannya unik karena mencampurkan ajaran Hindu-Siwa dan Buddha-Mahayana.
Sangat lumrah jika seorang Raja dipuja sebagai titisan Wisnu (Hindu), namun saat wafat didharmakan di candi dengan gaya Buddhis.
5. Tradisi Literasi dan Kesenian
Masyarakat Majapahit sangat menghargai sastra. Penulisan Kakawin (puisi epik) dan Kidung adalah tradisi intelektual yang berkembang pesat.
Wayang: Pertunjukan wayang (terutama Wayang Beber dan Wayang Purwa) sudah menjadi tradisi populer untuk menyampaikan pesan moral dan sejarah.
Gamelan: Musik gamelan mulai mencapai bentuk yang lebih kompleks sebagai pengiring upacara dan hiburan istana.
6. Ruwat dan Pemujaan Gunung
Tradisi Ruwat dilakukan untuk membebaskan seseorang atau wilayah dari kutukan atau nasib buruk. Selain itu, masyarakat Majapahit sangat memuja gunung (seperti Gunung Semeru dan Penanggungan) sebagai tempat tinggal para dewa, sehingga sering dilakukan pendakian ritual dan pembangunan candi di lereng gunung.
Tabel Singkat: Kehidupan Sosial Majapahit
Tradisi-tradisi ini menunjukkan bahwa Majapahit adalah masyarakat yang sangat teratur dan memiliki apresiasi tinggi terhadap harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Tags:
DUTA BUDAYA

