Jejak Bhayangkara Penjaga Tradisi: Tatkala Seragam Polisi Bersenyawa dengan Wayang

muncul sesosok perwira menengah Polri yang memilih jalan berbeda. Ia adalah Kombes Pol Tri Suhartanto, S.I.K. | Foto: Cak Lubis Prapanca

JAWA TIMUR | Di tengah deru digitalisasi yang kian kencang, di mana algoritma seringkali lebih dipuja ketimbang etika, muncul sesosok perwira menengah Polri yang memilih jalan berbeda. Ia adalah Kombes Pol Tri Suhartanto, S.I.K. Meski sehari-hari berkutat dengan tugas negara sebagai Ka Siaga A Mabes Polri, jiwanya tetap tertambat pada akar tradisi Nusantara yang adi luhung.

Penjaga Gerbang "Gubug Wayang"

Bagi Tri Suhartanto, pangkat Komisaris Besar Polisi bukanlah sekat yang memisahkannya dari rakyat dan budayanya. Sebagai Penasehat Museum Gubug Wayang Mojokerto, ia memikul tanggung jawab moral yang besar. Di museum tersebut, ribuan karakter wayang, topeng, hingga artefak seni lainnya bernapas dengan tenang di bawah pengawasannya.

"Budaya adalah identitas bangsa. Sekuat apa pun arus digitalisme menghantam, kita tidak boleh kehilangan jati diri," ungkapnya dalam sebuah kesempatan. Baginya, teknologi seharusnya menjadi sarana untuk memperkenalkan wayang, ludruk, hingga sastra ke level global, bukan malah menguburnya.

Melawan Arus Digitalisme dengan Karya

Era digital memang membawa kecanggihan, namun seringkali menggerus kedalaman rasa. Kombes Pol Tri Suhartanto secara konsisten menyuarakan pentingnya menjaga:

  • Seni Pertunjukan: Menjaga eksistensi Wayang Kulit dan Ludruk sebagai teater rakyat yang sarat pesan moral.
  • Eksplorasi Literasi: Mendukung penuh karya tulis dan sastra yang merekam jejak sejarah serta kearifan lokal.
  • Harmoni Suara: Mengapresiasi musik tradisional sebagai penyeimbang bisingnya dunia modern.

Cak Lubis Prapanca: Harapan untuk Jawa Timur

Langkah nyata sang perwira dalam merawat budaya ini memantik apresiasi luas, salah satunya dari Jurnalis Cak Lubis Prapanca. Menurut Cak Lubis, Jawa Timur membutuhkan pemimpin yang tidak hanya tegas secara hukum, tetapi juga memiliki "rasa" terhadap kearifan lokal.

"Pak Tri Suhartanto adalah sosok langka. Beliau memahami bahwa menjaga keamanan bukan sekadar patroli, tapi juga menjaga kerukunan lewat jalur budaya. Saya mendukung penuh dedikasi beliau," ujar Cak Lubis Prapanca.

Lebih jauh, Cak Lubis secara terang-terangan menyampaikan melui jurnalistik dukungannya agar Kombes Pol Tri Suhartanto dapat menakhodai kepolisian di Jawa Timur sebagai Kapolda Jatim di masa depan. Aspirasi ini muncul bukan tanpa alasan Jawa Timur dikenal sebagai gudangnya budaya tradisi (dari Reog, Ludruk, hingga Bantengan), sehingga dibutuhkan pemimpin yang mengerti bahasa rakyat dan bahasa tradisi.

Kesimpulan: Polisi yang Budayawan

Kombes Pol Tri Suhartanto membuktikan bahwa profesionalisme di kepolisian dan kecintaan pada budaya bisa berjalan beriringan. Di tangan sosok seperti inilah, harapan agar budaya tetap lestari di tengah kepungan modernitas menemukan sandarannya. Sebuah pengabdian yang melampaui tugas administratif—sebuah pengabdian pada jiwa bangsa.