Ngatemin dan Ibu Warsiyem: Jejak Pengabdian Dapur Mbah Man untuk Pondok Burengan

Ngatemin dan Ibu Warsiyem: Jejak Pengabdian Dapur Mbah Man untuk Pondok Burengan


Di balik perkembangan dan perjuangan awal Pondok Pesantren Darul Hadist Burengan, Kediri, terdapat sosok-sosok yang mengabdikan hidupnya tanpa banyak dikenal masyarakat luas. Salah satunya adalah pasangan Ngatemin dan Ibu Warsiyem, yang berasal dari Patianrowo, Nganjuk dan Sragen, Jawa Tengah. Pasangan ini dikaruniai 12 putra-putri yang turut menjadi bagian dari keluarga besar perjuangan pondok.

Pada masa awal perjuangan K.H. Nurhasan Al-Ubaidah Lubis mendirikan pondok, jumlah santri masih sangat sedikit dan dapat dihitung dengan jari. Dalam kondisi yang penuh keterbatasan tersebut, Ngatemin dan Ibu Warsiyem bahu-membahu menyiapkan kebutuhan konsumsi harian para santri. Pengabdian itu kemudian dikenal masyarakat sebagai "Dapur Mbah Man", sebuah dapur perjuangan yang menjadi penopang kehidupan santri Pondok Wali Barokah (Burengan), Kediri.

Ngatemin bukan hanya berkhidmat dalam urusan dapur sebagai bentuk perjuangan fi sabilillah, tetapi juga merupakan seorang guru agama yang mendapat amanah langsung dari Mbah Ubaidah untuk bertugas mengembangkan dakwah di Surabaya. Setelah menyelesaikan tugasnya, beliau kembali ke Pondok Burengan untuk meneruskan perjuangan pengabdian melalui Dapur Mbah Man bersama para pejuang pondok lainnya.

Pada masa itu terdapat tim pengabdian yang terdiri dari sekitar tujuh orang yang mengelola kebutuhan dapur dan kehidupan pondok. Salah satu tokoh yang turut berjuang adalah Sukiman, yang dikenal sebagai ayah dari Aziz Firma. Setelah pensiun dari dinas militer pada tahun 1961, Sukiman memilih mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk perjuangan Sabilillah di Pondok Burengan. Dengan penuh keikhlasan, beliau memimpin dan mengembangkan dapur pondok yang kemudian dikenal luas sebagai Dapur Mbah Man.

Pengabdian mereka bukanlah perjuangan yang mencari penghargaan duniawi, melainkan amal saleh yang diwariskan melalui keteladanan, kerja keras, dan keikhlasan. Hingga kini, nama Dapur Mbah Man tetap dikenang sebagai simbol perjuangan para perintis yang turut membesarkan Pondok Burengan dan melayani para santri dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan.