Menelusuri Jejak Wirosobo Lewat Atraksi Teatrikal di Mojoagung Jombang
![]() |
| Penampilan Tari Ular di Atas Kendi dari tradisi Pencak Bondan yang dipimpin oleh Nur Choirul Huda (Paguyuban Putra Putri Wayah Madjapahit) dalam ajang Wirosobo Fest 2026 Sabtu (12/9/2026). Foto: Cak Lubis Prapanca |
JOMBANG — Seruling bambu mendengung rendah saat sekelompok penari perlahan memasuki area Jalan Raya Mojoagung, Jombang, Sabtu sore, 12 September 2026. Di tengah deretan peserta busana kreasi, perhatian penonton tertuju pada Nur Choirul Huda yang membawa kendi tanah liat. Di atas wadah air itu, tarian bertajuk Tari Ular di Atas Kendi dari tradisi Pencak Bondan dipagarkan.
Pertunjukan riat-reot yang disuguhkan Paguyuban Putra Putri Wayah Madjapahit tersebut menjadi salah satu daya tarik dalam gelaran Wirosobo Fest 2026: Creative Fashion & Teatrikal Culture.
Namun, festival ini tak sekadar panggung parade busana dan pertunjukan seni saban tahun. Penyelenggara menyembipkan pesan sejarah yang kerap terlupakan masyarakat modern: asal-usul penamaan wilayah tempat festival itu digelar.
Sebelum dikenal sebagai Kabupaten Jombang, kawasan ini pada era lampau membentang di bawah nama Wirosobo wilayah historis yang tercatat dalam kronik Jawa kuno hingga era penaklukan Kesultanan Mataram. Teks-teks tutur lokal juga mencatat Wirosobo sebagai julukan tokoh utama pembuka lahan (babat alas) yang melegenda di wilayah pertengahan Jawa Timur tersebut.
"Melalui teatrikal dan tarian tradisi seperti Pencak Bondan ini, kami ingin merajut kembali ingatan sejarah. Wirosobo adalah fondasi identitas Jombang," ujar Nur Choirul Huda di sela-sela acara.
Di bawah naungan Yayasan Boo Hway Bio (Klenteng Mojoagung), festival ini sekaligus menjadi ajang akulturasi budaya. Sepanjang jalan protokol Mojoagung disulap menjadi panggung terbuka yang memadukan warisan sejarah lokal, seni pertunjukan rakyat, hingga kreativitas fesyen generasi muda.
