Mbah Bibit Tetap Jualan Mainan Tradisional Sejak 1976
![]() |
| Mbah Bibit, seorang pria berusia 76 tahun (lahir 1951) | Foto : Cak Lubis Prapanca |
Tulungagung – Di usia senja, Supangat atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Bibit (76), tetap konsisten menjalankan rutinitasnya sebagai penjual mainan tradisional. Dengan sepeda ontel jenis "kebo", kakek ini berkeliling di sekitar kawasan Kali Ngunut, Tulungagung, untuk menjajakan dagangannya.
Supangat atau Mbah Bibit, seorang pria berusia 76 tahun (lahir 1951) yang memiliki tiga orang anak (dua laki-laki, satu perempuan). Beliau tinggal di Jl. Raya Blitar No.7, Lingkungan 9, Ngunut, Tulungagung, dekat dengan Candi Ario Jeding.
Mbah Bibit berjualan mainan tradisional, salah satunya jenis *otok-otok*. Harga dagangannya sangat terjangkau, dimulai dari Rp2.500 per buah. Dalam sehari, ia biasanya mampu menjual 4 hingga 5 buah mainan.
Beliau berjualan dengan cara berkeliling di sekitar daerah Kali Ngunut menggunakan sepeda ontel kesayangannya.
Mbah Bibit telah melakoni profesi ini sejak tahun 1976, tepatnya setelah wafatnya Presiden Soekarno, dan tetap bertahan hingga tahun 2026 ini.
Meskipun penghasilan yang didapat tidak besar, Mbah Bibit tetap teguh menjalani pekerjaannya. Baginya, yang terpenting adalah mencari nafkah dengan cara yang halal dan berkah.
Mbah Bibit menjaga kesehatan dan staminanya di usia tua dengan pola makan sederhana, yakni rutin mengonsumsi *polo pendem* (umbi-umbian) dan air degan (kelapa muda).
Semangatnya tetap terjaga karena ia menjalani pekerjaannya dengan perasaan senang dan penuh syukur.
Kisah Mbah Bibit menjadi potret nyata tentang dedikasi dan kesederhanaan. Meski zaman terus berubah, ia memilih tetap setia melestarikan mainan tradisional, menjadi saksi hidup yang terus mengayuh sepeda "kebo" demi menyambung hidup dengan cara yang mulia.
Tags:
DUTA BUDAYA
