Nobar dan Diskusi Film Dokumenter "Pesta Babi" Di Gelar Tulungagung



Angkat Isu Papua, Lingkungan, dan Kemanusiaan Melalui Ruang Diskusi Publik

Tulungagung – Organisasi mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung kembali menghadirkan ruang diskusi publik melalui kegiatan Nonton Bareng (Nobar) dan Diskusi Film Dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” yang akan dilaksanakan pada 21 Mei 2026 di Warkop Edukasi Taman Puring, mulai pukul 18.30 WIB hingga selesai.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh UKM Mapala Himalaya UIN SATU Tulungagung bersama UKM Dimensi UIN SATU Tulungagung sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap isu kemanusiaan, lingkungan, dan kondisi sosial masyarakat Papua yang diangkat dalam film dokumenter tersebut.

Film “Pesta Babi” menghadirkan potret realitas sosial dan persoalan yang terjadi di Papua dari sudut pandang kemanusiaan dan lingkungan. Melalui pemutaran film ini, panitia berharap masyarakat dapat lebih memahami berbagai persoalan sosial secara terbuka dan kritis.

Acara diskusi akan menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya:

Harun selaku Koordinator Aliansi Lereng Wilis Tulungagung. Siti Mutmainah dari WALHI Jawa Timur. Sementara jalannya diskusi akan dipandu oleh Faizal Tamam sebagai moderator.

Panitia menegaskan bahwa kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya alias free HTM. Selain itu, peserta juga dipersilakan memberikan donasi sukarela yang nantinya akan disalurkan kepada pengungsi Papua melalui lembaga sosial dan kemanusiaan terkait.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap ruang-ruang diskusi kritis dan edukatif dapat terus tumbuh di tengah masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda dan akademisi.

“Sebagai mahasiswa UIN SATU Tulungagung dan bagian dari organisasi pecinta alam, kami ingin menghadirkan ruang edukasi dan diskusi publik terkait isu kemanusiaan dan lingkungan di Papua. Melalui kegiatan nobar dan diskusi ini, kami berharap masyarakat lebih peduli terhadap nilai kemanusiaan, sekaligus ikut berkontribusi nyata melalui donasi untuk warga pengungsian Papua.” ujar panitia penyelenggara.

Masyarakat umum, mahasiswa, aktivis, jurnalis, dan komunitas pemuda diundang untuk hadir dan mengikuti diskusi secara terbuka dalam suasana santai namun penuh makna.