Peluncuran KSK3 Unisgri, Mahasiswa Desak Baku Mutu Mikroplastik
![]() |
| Peluncuran KSK3 Unisgri, Mahasiswa Desak Baku Mutu Mikroplastik |
GRESIK, 11 Juni 2026 – Kelompok Studi Mahasiswa Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Sunan Gresik resmi meluncurkan gerakan Environmental Sovereignty Goals (ESG) di Lobby Gedung Kampus B. Peluncuran ini menjadi langkah awal dalam menghidupkan kembali literasi ekologi dan advokasi lingkungan di kalangan mahasiswa melalui pameran interaktif serta pemeriksaan mikroplastik secara langsung menggunakan mikroskop digital.
Gerakan ESG lahir dari keresahan mahasiswa setelah mempelajari hasil riset Ecoton mengenai paparan mikroplastik pada tubuh pekerja pengelola sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Berangkat dari temuan tersebut, ESG berupaya membawa isu mikroplastik ke ruang publik kampus agar mahasiswa dan masyarakat dapat melihat secara langsung ancaman polusi yang selama ini tidak kasat mata.
Dalam pameran tersebut, ESG merilis data awal yang cukup mengkhawatirkan. Dari pemeriksaan sampel kulit wajah dan tangan terhadap 100 partisipan yang terdiri dari masyarakat umum dan akademisi di Gresik, seluruh partisipan atau 100 persen dinyatakan positif terpapar mikroplastik.
Hasil pengamatan menunjukkan setiap partisipan memiliki sekitar 4 hingga 7 partikel mikroplastik jenis fiber yang berasal dari serat kain sintetis seperti poliester, nilon, dan akrilik. Jumlah tersebut bahkan meningkat hingga 12 partikel pada individu yang mengenakan pakaian berbahan poliester bercorak tebal.
Selain itu, ditemukan pula 1 hingga 3 partikel mikroplastik jenis fragmen yang diduga berasal dari degradasi berbagai jenis plastik keras, seperti PET, PVC, PP, PS, dan HDPE. Partikel-partikel tersebut diyakini berasal dari pelepasan serat pakaian sintetis, gesekan ban kendaraan di jalan raya, hingga penguraian sampah plastik yang tersebar di udara.
Menurut ESG, ancaman mikroplastik tidak hanya dialami pekerja pengelola sampah yang berada di garis depan paparan, tetapi juga masyarakat umum. Kontaminasi di lingkungan rumah tangga dinilai semakin masif akibat tingginya penggunaan peralatan berbahan plastik, konsumsi plastik sekali pakai, serta belum optimalnya sistem pengelolaan sampah di berbagai daerah.
Salah satu mahasiswa Universitas Sunan Gresik, Deny Maulana Roziqin, mengaku terkejut setelah mengetahui fakta tersebut.
"Selama ini saya hanya mengetahui plastik sebagai penyebab banjir. Namun setelah mengetahui bahwa mikroplastik dapat menempel pada kulit, masuk ke dalam tubuh manusia, bahkan ditemukan hingga pada air ketuban, saya merasa Indonesia harus segera memiliki baku mutu mikroplastik. Dari pemaparan teman-teman ESG, ternyata hingga saat ini Indonesia belum memiliki standar baku mutu terkait mikroplastik," ujarnya.
Respon serupa disampaikan Yuli Ariyanti Wulandari, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sunan Gresik. Ia menilai isu mikroplastik membuka ruang kajian baru yang menarik untuk diteliti lebih lanjut.
"Pemaparan ini memicu ketertarikan akademis saya. Sebagai bentuk respons nyata, saya merasa terpanggil untuk membawa isu ini ke dalam penelitian di bidang psikologi guna mengkaji sejauh mana polutan tak kasat mata ini dapat memengaruhi kapasitas psikologis manusia modern," katanya.
Sementara itu, Kepala Program Studi K3 Universitas Sunan Gresik, Achmad Sakhowi Al Awwarij, S.K.M., M.KKK, menyatakan dukungan penuh terhadap keberadaan kelompok studi tersebut.
"Kegiatan seperti ini perlu mendapatkan dukungan dan pendampingan dari para dosen agar mampu memperkuat nalar ilmiah dan ketajaman analisis mahasiswa dalam merespons isu mikroplastik yang semakin mengancam peradaban manusia. Mewakili civitas akademika Universitas Sunan Gresik, saya berkomitmen mendukung pengembangan kelompok studi ini agar dapat bergerak lebih masif dan memberikan manfaat yang lebih luas," ungkapnya.
Dari Bidang Kajian Ekologi ESG, Dafa Ubaidillah Naufal Baihaqi menegaskan bahwa Indonesia memerlukan landasan hukum yang jelas untuk menghadapi ancaman mikroplastik.
"Baku mutu mikroplastik harus segera ditetapkan sebagai dasar regulasi. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan. Kita membutuhkan pemahaman publik yang kuat agar pemerintah terdorong untuk mengambil langkah konkret dalam merumuskan, menetapkan, dan mensosialisasikan standar baku mutu mikroplastik kepada masyarakat," tegasnya.
Melalui kegiatan ini, ESG mengajak mahasiswa untuk menjalankan perannya sebagai agent of change dengan memperkuat budaya literasi dan penelitian. Menurut mereka, penyebarluasan pengetahuan menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat sekaligus mendorong pemerintah segera menetapkan regulasi dan baku mutu mikroplastik di Indonesia.
"Krisis mikroplastik merupakan alarm darurat yang membutuhkan tindakan nyata. Literasi harus menjadi senjata utama untuk memperluas pengetahuan masyarakat dan mendesak lahirnya kebijakan yang mampu melindungi kesehatan manusia serta lingkungan hidup," tutup Dafa.
